Lyra! Kamu akan menyesal
Aku terus berjalan dengan cepat sementara Sagitta berusaha mengikuti
langkahku. “Untuk apa, Git? Aku bukan siapa-siapa dia lagi sekarang.”
“Kamu jangan egois seperti ini, Lyra! Kamu akan menyesal jika terus-terusan egois,”
Aku berhenti. Kupandang Sagitta tajam. “Aku atau Arion yang egois?!”
“Maafkan Arion, Ra. Temui dia dulu. Kalian berbicara lagi biar tidak ada yang terluka.”
“Percuma! Dia sudah terluka kehilangan tangan kanannya, kehilangan
impiannya. Dan aku, hatiku yang terluka. Aku terluka karena
penderitaannya, Git. Kamu tahu ‘kan jika aku teramat mencintainya. Dulu.
Sekarang. Selamanya.”
“Maka dari itu, jenguk Arion, Ra.”
Aku menggeleng lalu berbalik arah, meninggalkan Sagitta yang bingung dengan sikapku.
Di suatu malam, kusaksikan di langit sana ada sebuah bintang yang amat
terang. Dibandingkan bintang-bintang lain di sekitarnya, satu bintang
itu amat memukau. Akan tetapi setelah kutinggalkan beberapa saat untuk
mengerjakan tugas kuliah, bintang itu sudah tidak ada lagi di sana. Aku
teringat pada sebuah artikel yang pernah kubaca, katanya bintang yang
duluan mati (menghilang) adalah bintang yang paling terang di antara
bintang lainnya. Tiba-tiba aku teringat Arion, bagiku Arion adalah
bintang yang paling bercahaya di hidupku. Ah, jangan memikirkan yang
tidak-tidak, Lyra! Suara hatiku memberontak.

Comments
Post a Comment